6 Bulan Tenggorokan Saya Rasanya Mengganjal

Tulisan ini adalah pengalaman pribadi saya sendiri yang saat ini sedang merasakan perasaan tidak nyaman di daerah tenggorokan, ya.. sebuah perasaan yang benar-benar tidak nyaman. Sejak 6 bulan terakhir, saya mengalami semacam sensasi rasa mengganjal pada tenggorokan dalam bagian kiri saja. Saya sudah bolak-balik melihat bagian tenggorokan menggunakan lampu senter namun tidak menemukan kelainan.

Sakit Tenggorokan

Perasaan mengganjal di tenggorokan yang saya alami tidak disertai rasa sakit dan hal-hal aneh seperti demam, pembengkakan amandel, penurunan berat badan dan sebagainya. Saya merasa sehat, sekarang yang sakit justru malah mental saya karena sering memikirkan sebenarnya apa penyakit yang saya derita ini. Untuk mengobati rasa penasaran, saya pun kerap googling guna memperoleh informasi tentang rasa tidak nyaman di tenggorokan tersebut.

Alhasil, ternyata ada banyak sekali hal-hal yang dapat menyebabkan itu, mulai dari kanker, peradangan kronik, GERD yang menginflamasi kerongkongan melalui asam lambung yang naik dan lain-lain yang justru semakin membuat pikiran saya semakin cemas. Kalau boleh memilih, saya berharap bahwa penyakit yang saya alami bukanlah kanker karena jujur saya sangat phobia dengan penyakit yang satu ini. Bukan tidak pernah usaha, saya sudah ke dokter umum yang berbeda sebanyak tiga kali dan diberi obat namun hasilnya sama sekali tidak ada perubahan, tenggorokan saya rasanya masih tetap mengganjal.

Saat pemeriksaan, dokter pertama melihat tenggorokan saya dengan senter dan katanya tidak melihat adanya hal mencurigakan, kemudian beliau bertanya apa saya punya riwayat penyakit sinusitis? Saya pun menjawab dan memastikan bahwa saya tidak pernah mengalami penyakit sinusitis sebelumnya. Dilain waktu saya bertemu dengan dokter kedua, yang ini peralatannya lebih canggih lagi, ternyata senter yang digunakan untuk menerangi memakai handphone.

Beliau melihat tenggorokan, katanya tidak ada apa-apa, lalu dilanjutkan dengan menerangi lubang hidung saya tanpa bantuan alat apa pun selain senter handphone tadi dan berkata lagi jika beliau melihat konka di dalam hidung saya membesar, ada kemungkinan hal itu terjadi karena adanya peradangan di dalam rongga hidung yang disebabkan oleh alergi, tanpa didukung oleh tes-tes lain beliau menyimpulkan jika peradangan di rongga hidung inilah yang menyebabkan perasaan mengganjal di tenggorokan.

Akhirnya saya diberi obat untuk radang berupa anti inflamasi. Beberapa hari kemudian saya kontrol lagi ke dokter yang kedua tadi dan bertanya, apakah penyakit saya yang katanya sumber utamanya alergi ini bisa disembuhkan? Dokter menjawab, kalau masalah alergi tidak tentu, bisa lama bahkan bisa selamanya, tergantung bagaimana kita menghindari pemicunya. Saya pun merasa semakin bingung karena tidak tahu saya ini alergi sama apa? Lalu, jika saya tidak dapat menghindari pemicu alergi yang tidak saya ketahui ini berarti seumur hidup saya harus berteman dengan rasa mengganjal ini?

Iya kalau bener penyakit saya radang kronik karena alergi tadi, menurut saya pemeriksaan tersebut tidak akurat, soalnya saya tidak pernah bersin-bersin atau hidung meler terus-terusan seperti umumnya orang yang menderita alergi. Bagaimana coba kalau ternyata penyakit saya merupakan indikasi kanker rongga hidung atau tenggorokan dan akhirnya malah tidak terdeteksi sejak dini? Bisa-bisa gak akan lama saya menghabiskan sisa waktu di dunia ini.

Sebagai orang awam yang tidak mengerti apa-apa, saya hanya bisa berdoa semoga penyakit ini tidak semenakutkan seperti yang saya bayangkan. Setelah siang dan malam saya pikir-pikir terus, ada benarnya juga perkataan dokter tersebut, mungkin memang benar ada peradangan di rongga hidung, tapi saya yakin bukan karena alergi. Untuk lebih jelasnya, sepertinya saya perlu bercerita tentang riwayat penyakit saya dimulai dari beberapa tahun lalu.

Sekitar 4 tahun yang lalu saya mengalami persoalan hidung sebelah kiri yang tersumbat. Awalnya saya mengira hidung tersumbat tersebut disebabkan oleh flu biasa, namun ternyata permasalahan tersebut tetap berlangsung hingga 1 tahun, itu artinya ada sesuatu yang tidak beres di dalam hidung saya. Karena penasaran akhirnya saya pun memotong seluruh bulu hidung dengan tujuan agar dapat melihat secara jelas ke dalam lubang hidung.

Alangkah kagetnya ketika saya melihat semacam benjolan yang hampir menutupi seluruh bagian lubang hidung sebelah kiri. Waktu itu saya berpikir bahwa benjolan tersebut adalah polip. Tak ingin terlalu lama merasa cemas, saya pun segera mendatangi seorang dokter umum untuk memeriksakan diri. Dokter memeriksa hidung saya menggunakan alat khusus sehingga beliau dapat melihat ke dalam rongga hidung dengan baik. Setelah itu, dengan mengernyitkan dahi dokter berkata, di dalam hidung radang semua, lebih baik saya rujuk saja ke dokter THT.

Mengikuti saran dokter umum itu, saya pun akhirnya pergi ke dokter spesialis THT. Ketika bertemu dokter THT, saya mengatakan jika di dalam hidung ada polip. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter THT menjelaskan bahwa benjolan tersebut bukan polip, melainkan konka yang membesar. Konka berfungsi mengatur suhu udara yang masuk ke dalam tubuh melalui hidung agar sesuai suhu badan. Ketika udara dingin, normalnya, secara otomatis konka akan membesar.

Namun, saat terjadi peradangan rongga hidung, konka juga akan membesar tetapi tidak dapat mengecil kembali kecuali dengan terapi pengobatan. Kala itu terapi pengobatan yang dilakukan untuk mengecilkan konka saya yang membesar tidak berhasil kemudian dokter THT menyarankan untuk dioperasi karena konka saya cukup besar dan telah merusak konstruksi hidung bagian dalam. Saat operasi, dokter THT juga memotong dan mengambil sebagian tulang hidung saya yang bengkok akibat pembesaran konka yang terjadi pada hidung sebelah kiri saja.

Beberapa tahun setelah operasi, saya tidak pernah mendapatkan keluhan apa pun hingga akhirnya saat ini saya mengalami sensasi rasa mengganjal di tenggorokan seperti yang telah dijelaskan diatas. Saya tidak tahu apakah rasa mengganjal tersebut ada kaitannya dengan riwayat kesehatan saya sebelumnya atau tidak. Rencananya, beberapa waktu kedepan saya ingin memeriksakan diri ke dokter THT untuk memperoleh diagnosa, sebab, jika saya hanya menduga dan terus menduga, maka saya hanya akan mendapatkan bermacam-macam dugaan penyakit yang tidak pasti.

loading...