Cara Menghadapi Orang Tua Otoriter & Suka Memaksakan Kehendaknya Sendiri

Orang tua merupakan sosok yang harus kita hormati dengan penghormatan yang setinggi-tingginya. Siapapun suatu saat akan menjadi orang tua bagi anak-anaknya. Jika saat ini kita bisa berbuat salah, maka bukan berarti kelak ketika menjadi orang tua, kita juga tidak akan pernah berbuat salah. Hal serupa sedang terjadi pada orang tua kita saat ini. Mereka adalah manusia biasa yang bisa berbuat salah dengan bersikap otoriter serta merasa selalu paling benar. Saat berhadapan dengan situasi seperti ini, kita sebagai anak akan merasa bingung. Di satu sisi kita merasa benar namun selalu disalahkan, di sisi lainnya kita tidak ingin dianggap durhaka karena menentang kehendak orang tua. Untuk menghadapi dilema tersebut, berikut tips yang bisa anda lakukan:

Orang Tua Egois

1. Tunjukkan Bukti Nyata Untuk Meyakinkan Orang Tua

Anak dan orang tua hampir selalu akan memiliki pandangan yang berbeda dalam menyikapi suatu keadaan. Sangat jelas, hal ini terjadi karena cara berpikir orang tua dengan orang yang lebih muda memiliki perbedaan yang signifikan. Orang tua mempunyai kebiasaan menghadapi masalah dengan mengedepankan kepentingan jangka panjang, sementara orang yang lebih muda memiliki pemikiran bahwa semua masalah harus dapat diselesaikan dengan segera.

Perbedaan pola pikir ini sebenarnya wajar, akan tetapi, beberapa orang tua yang otoriter justru kerap memaksakan kehendaknya sendiri tanpa memberi kesempatan bagi anak untuk menyampaikan pendapatnya. Memang, orang tua memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam menghadapi suatu masalah karena mereka pernah muda. Akan tetapi, mungkin mereka tidak tahu bahwa pendapat anak muda tidak bisa disepelekan begitu saja karena hampir semua ide-ide besar di dunia ini dikeluarkan oleh mereka anak muda yang masih aktif.

Saat orang tua tidak dapat menerima pendapat anda, maka gunakanlah cara yang kreatif yaitu dengan memberikan bukti nyata tentang persepsi anda agar mereka percaya dan yakin bahwa pendapat anda adalah benar.

2. Cari Solusi Terbaik Yang Bisa Diterima Kedua Belah Pihak

Setiap permasalahan yang menghampiri kita harus dapat diselesaikan dengan segera karena jika tidak diselesaikan maka masalah lain akan datang kemudian menumpuk menjadi masalah-masalah yang tak terselesaikan. Setiap penyakit diciptakan oleh Yang Maha Kuasa bersama dengan obatnya, begitu pun pula dengan masalah yang ada pada diri kita, tidak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan.

Berhadapan dengan orang tua otoriter adalah salah satu masalah yang harus dihadapi dan bukannya justru malah dihindari karena anda tidak mungkin dapat menghindar dari orang tua untuk selamanya. Berdiplomasilah dengan mereka secara baik-baik, mintalah kepada orang tua untuk mempertimbangkan pendapat anda. Katakan pada mereka bahwa setiap permasalahan di dalam keluarga yang melibatkan anda, maka anda berhak untuk mengambil bagian dari diskusi.

Semakin banyak orang yang terlibat dalam usaha untuk menyelesaikan sebuah masalah, maka hal itu akan membuat masalah yang sedang dihadapi cepat teratasi.

3. Menggabungkan Pendapat Anda dan Orang Tua

Setiap orang mempunyai karakter dan prinsip yang berbeda-beda. Hal ini terkadang dapat menjadi penyebab utama sulitnya bagi kita untuk menyatukan pemikiran atau pendapat dengan orang lain. Keragaman karakter maupun prinsip tersebut biasanya dipengaruhi oleh usia, tingkat pendidikan, lingkungan, adat, serta agama. Anda dan orang tua bisa saja terlibat dalam situasi tersebut yaitu berseberangan dalam meyakini sebuah pendapat.

Ketika suatu perselisihan tidak menemukan titik solusi, maka menggabungkan beberapa pandangan menjadi satu visi merupakan jalan terbaik yang dapat ditempuh. Caranya adalah dengan melakukan diskusi yang mengikutsertakan mediator ahli atau seseorang yang memahami masalah anda dengan orang tua.

Demikian beberapa cara bijaksana dalam menghadapi sikap orang tua yang kerap memaksakan kehendak dan sering bertindak otoriter. Semoga dengan berjalannya waktu serta bertambahnya usia, pintu hati orang tua akan terbuka dan akhirnya membuat mereka berubah serta mampu memahami perasaan anak-anaknya dengan lebih baik.