Pengalamanku: Tulang Lengan Mengsol Setelah Kecelakaan

Sehabis liburan lebaran yang cukup panjang kemarin selesai, akhirnya aku harus kembali bekerja dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Di sela-sela kegiatanku menulis blog ini, aku adalah karyawan swasta yang berdomisili di daerah Temanggung namun bekerja di kota Semarang. Aku bekerja hanya 5 hari, yaitu Senin sampai Jumat dan tinggal di sebuah kost yang ada di seputaran jalan Gajah Raya Semarang. Khusus hari Sabtu dan Minggu, aku gunakan waktu tersebut untuk berkumpul bersama keluarga di rumah yaitu di Temanggung. Itu artinya setiap seminggu sekali aku harus pulang ke kampung halaman.

Naik Motor

Perjalanan antara Temanggung ke Semarang atau sebaliknya biasanya aku tempuh dengan kendaraan roda dua melalui jalur Bandungan. Bagi sebagian orang yang mengenal daerah itu pasti sudah paham jika jalan tersebut cukup berbahaya jika kita tidak berhati-hati karena di tempat tersebut banyak jalan berliku, tikungan tajam dan jurang-jurang yang dalam, apalagi jika kabut sedang turun, jarak pandang mata tak lebih dari 5 meter.

Tepatnya satu setengah bulan yang lalu, saat berangkat ke Semarang untuk bekerja melalui jalur tersebut, aku mengalami insiden yang cukup menyakitkan, sepeda motor yang aku kendarai terjatuh. Peristiwa itu terjadi saat aku berusaha menyalip mobil di tikungan dengan kecepatan yang lumayan tinggi, tiba-tiba kendaraan tidak bisa aku kuasai dan aku pun terjatuh terkapar di jalan raya. Ada tiga titik bagian tubuh yang aku rasakan sakit sekali saat itu yaitu lengan kanan, bahu kanan dan tulang belikat sebelah kanan. Saat itu aku tidak bisa menggerakkan seluruh bagian tangan kananku.

Singkat cerita, seseorang membawaku pulang ke rumah karena memang aku tidak mau dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di rumah, aku mencoba beristirahat sambil menahan rasa sakit yang tidak karu-karuan. Penasaran dengan rasa sakit itu, aku minta bantuan saudara untuk membuka kaosku dengan cara mengguntingnya. Benar dugaanku, lenganku melintir dan tidak berada di tempat yang seharusnya.

Dengan segera kemudian aku pergi ke pengobatan ahli tulang alternatif. Tanpa pikir panjang mereka mencoba mengembalikan posisi tulangku yang mengsol. Bisa dibayangkan bukan betapa sakitnya mengembalikan posisi tulang dengan cara manual? Bahkan mereka mewanti-wanti agar aku tidak pingsan karena jika pingsan mereka tidak berani melanjutkan tindakan. Mau tidak mau aku nikmati rasa sakit luar biasa itu. Setelah selesai, aku mendapatkan semacam perban elastis berwarna cokelat muda untuk mengikat lenganku agar tidak kembali mengsol setelah direposisi.

Aku pun sedikit merasa lega karena aku pikir semua sudah beres, setelah beberapa kali kontrol hingga waktu satu bulan aku masih merasakan sakit yang cukup mengganggu, terutama saat bangun tidur. Setelah aku amati sendiri, benar saja ternyata lenganku masih mengsol meskipun sudah lebih baik dari sebelumnya. Satu lagi, tulang belikatku ternyata juga bergeser lebih mundur dari tempatnya. Aku mencoba membicarakan hal ini dengan ahli tulang alternatif, mereka pun berkata itu sudah pada tempatnya, padahal jelas-jelas terlihat belum benar, jadi aku menangkap maksud mereka bahwa mereka tidak dapat melakukan apa pun lagi karena disamping mengsol, sepertinya lenganku juga memutar atau melintir.

Tidak puas dengan hasilnya, aku berinisiatif pergi ke dokter spesialis tulang. Takut terbebani biaya mahal, aku pun mengaktifkan kembali kartu BPJS yang sudah telat lebih dari 6 bulan. Maaf ya, bukannya aku tidak tertib dalam membayar tapi karena BPJS nya saja yang sulit dibayar dan sering error. Back to topic.. Setelah semua beres, aku pun akhirnya berhadapan langsung dengan dokter spesialis tulang di salah satu rumah sakit ternama yang ada di Temanggung. Tanpa pikir panjang aku melayangkan keluhanku.

Ternyata tanggapan dokter tidak jauh berbeda dengan ahli tulang alternatif, beliau mengatakan jika tulang mengsol sedikit itu tidak apa-apa, tulang belikat agak menonjol ke belakang juga tidak apa-apa. Sepertinya dokter hanya mau menindaklanjuti jika tulangku ada yang patah sementara beliau menyimpulkan tidak terjadi hal demikian. Akhirnya aku hanya diberi resep obat pereda rasa nyeri saja. Yah mau mengadu sama siapa lagi.. Aku terima saja keadaanku yang saat ini tidak bisa mengangkat tangan melebihi kepala dan memiliki ukuran kedua tangan yang tidak sama panjang.

Itulah cerita pengalamanku yang cukup tidak enak ini, intinya jika kalian tidak ingin mendapatkan pengalaman serupa denganku, maka berhati-hatilah dalam berkendara. Keselamatan lebih penting dari apa pun.