Penjualan Stempel Menurun Di Awal Tahun

Hasil penjualan stempel bulan ini merosot jatuh jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Tidak jelas hal ini disebabkan oleh apa, karena awal tahun atau dikarenakan munculnya pesaing baru yang hanya berjarak kurang lebih 100 meter dari tempatku berjualan stempel.

Foto Stempel

Belum lama ini memang ada seorang pebisnis stempel yang juga membuka jualan menggunakan mobil seperti yang aku kerjakan, bedanya, aku berkecimpung di dunia stempel sudah hampir 10 tahun, sementara orang tersebut baru memulainya sebulan.

Dengar kabar, pembukaan hari pertama ia berhasil menjual 8 item stempel, perolehan yang cukup baik untuk permulaan dengan perhitungan harga stempel kayu Rp25.000 x 4 item dan stampel warna Rp60.000 x 4 item, artinya hari pertama ia jualan mendapatkan omzet pemasukan Rp340.000.

Namun bagaimanapun juga itulah bisnis, kita harus dapat berkreasi dan berinovasi menjadi lebih baik agar tidak kalah dengan orang lain. Dari kemunculan pengusaha stampel yang baru itu kemudian aku mengatur ulang strategi.

Hal pertama yang harus dilakukan agar aku dapat bersaing dengan sehat bersamanya adalah melalui memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen dan tentu saja juga menawarkan produk yang lebih istimewa dari lainnya.

Hal sederhana untuk memenangkan hati konsumen adalah dengan melayani mereka secara ramah, santun dan selalu menampakkan wajah berseri agar mereka nyaman membeli produk yang aku tawarkan.

Apa yang harus dilakukan agar aku bisa memberikan produk yang lebih baik? Mengatasi hal ini aku pun membuat stempel dengan mengutamakan sisi detail yang bagus disertai penggunaan tinta kualitas nomor satu khusus untuk stempel warna. Hal ini aku lakukan dengan harapan agar hasil stempel yang aku buat menjadi sempurna.

Mudah-mudahan dengan memberikan pelayanan yang serba lebih baik ini berefek bulan depan penjualan stempel merangkak kembali naik seperti sebelumnya. Disisi lain, prediksiku tentang penurunan omzet penjualan yang disebabkan oleh adanya pesaing baru belum tentu sepenuhnya benar.

Bahkan tidak mungkin hal itu justru disebabkan oleh iklim usaha di tanah air yang kian lesu akibat dollar yang tidak stabil. Perlu diketahui bahwa pengguna stempel saat ini tidak seperti jaman dahulu yang hanya dipakai oleh instansi resmi pemerintah.

Jaman berubah, penggunaan stempel pun kini kerap dipakai oleh pengusaha-pengusaha yang ingin membuat PT, CV, UD dan lain sebagainya. Akan tetapi, meskipun iklim perekonomian sedang kurang baik, menurut pikiranku, apakah benar hal ini akan berpengaruh terhadap bisnis stempel?

Apa pun keadaannya stempel tetap harus dibeli jika diperlukan. Bukankah stempel adalah barang wajib untuk membuat dokumen menjadi sah? Dari kesimpulan-kesimpulan tersebut aku pun mengerucutkan secara pasti penyebab lesunya bisnis stempel yang kualami, yaitu karena adanya pesaing baru atau karena faktor pergantian tahun.

Untuk mengetahui jawaban secara pasti, maka tak ada jalan lain selain menunggu bulan berganti dan melihat bagaimana bulan februari akan merubah keadaan atau tidak. Keadaan dimana penjualan stempel menurun sebenarnya bukan kali pertama terjadi, di dalam satu masa yang namanya usaha pasti ada pasang dan juga surut, hal itu sungguh-sungguh sesuatu yang biasa dan tidak perlu dikhawatirkan

Kuncinya hanya satu, buatlah pelanggan merasa puas karena dengan begitu mereka tak akan pernah berpaling kepada penjual lainnya.

Saat aku memposisikan diri sebagai pembeli produk, tentu banyak faktor yang akan membuatku menjadi pelanggan setia sebuah gerai penjualan, diantaranya adalah bagaimana aku dilayani, apakah aku mendapat kepuasan dan yang tak kalah penting, benarkah harga yang aku keluarkan berbanding dengan kualitas barang yang aku dapatkan? Jika jawabannya iya, maka berapapun harganya akan aku bayar.